Misteri Sentono Genthong Wisata Religi di Puncak Pacitan yang Sarat Sejarah


Pacitanupdate.com | PRINGKUKU - Di atas Bukit Karang yang menjulang tinggi, tepat menghadap Teluk Pacitan yang eksotis, terdapat sebuah situs bersejarah yang penuh misteri—Sentono Genthong. Lebih dari sekadar destinasi wisata, tempat ini menyimpan kisah spiritual dan legenda yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Berlokasi di Desa Dadapan, Kecamatan Pringkuku, Sentono Genthong menawarkan pengalaman unik. Dari puncaknya, pengunjung bisa menikmati panorama Kota Pacitan yang berpadu dengan keindahan Teluk Pacitan dan latar megah Gunung Limo. Dengan tiket masuk yang terjangkau, tempat ini menjadi pilihan menarik bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam sekaligus merasakan aura mistisnya.

Asal-usul Nama Sentono Genthong

Nama "Sentono Genthong" memiliki makna mendalam. "Sentono" mengacu pada tempat pertapaan, sementara "Genthong" merujuk pada wadah tanah liat yang digunakan untuk menyimpan sesuatu yang dianggap sakral. Konon, di dalam genthong ini pernah tersimpan tulang belulang yang diyakini memiliki kekuatan gaib. Keberadaan tulang tersebut menjadi bagian dari misteri yang hingga kini masih menjadi bahan perbincangan.

Legenda menyebutkan bahwa pada masa penjajahan Belanda, tulang-tulang dalam genthong itu menghilang secara misterius. Sebagian orang percaya bahwa tulang tersebut diambil oleh pihak kolonial, sementara versi lain menyebutkan bahwa benda sakral itu menghilang dengan sendirinya disertai suara gemuruh yang menggetarkan bukit.

Sentono Genthong dan Tumbal Pulau Jawa

Selain misteri genthong, Sentono Genthong juga dikaitkan dengan legenda tentang "tumbal" Pulau Jawa. Konon, seorang Sultan dari Negeri Ngerum mengutus rakyatnya untuk membuka lahan di Jawa. Namun, gangguan makhluk halus menghambat upaya mereka. Seorang pandita akhirnya melakukan ritual penumbalan untuk menenangkan para penghuni gaib.

Legenda lain menghubungkan Sentono Genthong dengan Prabu Brawijaya, raja terakhir Majapahit. Disebutkan bahwa tulang tangannya disimpan di puncak bukit ini sebagai bagian dari syarat keselamatan bagi Pulau Jawa. Hal ini semakin memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap nilai spiritual tempat ini.

Peran Syekh Subakir dalam Sejarah Sentono Genthong

Tak bisa dilepaskan dari cerita sejarah Sentono Genthong adalah sosok Syekh Subakir, seorang ulama asal Persia yang datang ke Nusantara sekitar tahun 1400 M. Menurut cerita rakyat, beliau memasang tumbal di berbagai titik di Pulau Jawa, termasuk di Sentono Genthong, untuk mengusir roh jahat dan membuka jalan bagi penyebaran Islam. Kehadirannya dipercaya membawa keseimbangan antara dunia spiritual dan kehidupan manusia.

Wisata Religi yang Sarat Makna

Seiring berjalannya waktu, Sentono Genthong berkembang menjadi destinasi wisata religi. Banyak peziarah datang untuk mencari ketenangan batin atau sekadar menikmati keindahan alam yang menenangkan jiwa. Bahkan, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, pernah mengunjungi tempat ini dan menekankan pentingnya Sentono Genthong sebagai simbol harmoni antarumat beragama.

"Sentono Genthong ini bisa dikatakan sebagai wisata religi karena berkaitan erat dengan sejarah penyebaran Islam di Tanah Jawa. Kehadiran Syekh Subakir dan nilai spiritualnya masih terasa hingga kini," ujar Khofifah dalam kunjungannya.

Destinasi Mistis yang Memikat Hati

Meski penuh misteri, Sentono Genthong tetap menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dan peziarah. Keberadaan cungkup yang tetap utuh meski jarang direnovasi, serta genthong yang tampak baru meski telah berusia ratusan tahun, semakin menambah aura mistis tempat ini.

Akses ke lokasi ini cukup mudah, terutama bagi wisatawan yang menggunakan jalur bus Pacitan-Solo. Pemerintah Desa Dadapan turut serta dalam pengelolaan tempat ini agar tetap lestari dan terjaga keasliannya.

Bagi mereka yang mencari pengalaman wisata yang berbeda,perpaduan antara keindahan alam, sejarah, dan spiritualitas

"Sentono Genthong adalah destinasi yang tak boleh dilewatkan. Di sinilah legenda, mistisisme, dan keindahan alam bersatu dalam harmoni yang menakjubkan"

Lebih baru Lebih lama