PACITAN | PacitanUpdate.com – Industri batik di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, mencatatkan sejarah panjang dengan pernah mengalami puncak kejayaannya pada periode 1890 hingga 1910. Kejayaan masa lalu tersebut kini terus ditelusuri melalui berbagai literatur sejarah serta dipertahankan secara konsisten oleh sejumlah keluarga perajin lokal di wilayah Pacitan hingga Jumat (2/10/2026).
Perajin Batik asal Desa Sukoharjo, Pacitan, Danang Eko Hariyanto (45), mengungkapkan bahwa perkembangan pesat industri batik Pacitan pada akhir abad ke-19 berkaitan erat dengan kehadiran dua perempuan bersaudara asal Belanda, yaitu E. Coenraad dan M. Coenraad. Keduanya datang dari Surakarta dan bermukim di Pacitan sekitar tahun 1880 untuk mendirikan perusahaan batik yang kemudian dikenal dengan nama Batik Coenraad.
”Berdasarkan catatan buku sejarah Belanda, batik Pacitan berkembang sangat pesat pada kurun waktu 1890–1910,” ujar Danang saat mengutip buku Batik Belanda 1840–1940 karya Harmen C. Veldhuisen yang diterbitkan pada tahun 1993, Jumat (2/10/2026).
Danang menjelaskan, pesatnya perkembangan bisnis usaha tersebut didukung oleh ketersediaan tenaga pembatik berpengalaman di Pacitan yang saat itu memiliki upah relatif terjangkau. Perusahaan Batik Coenraad memadukan gaya Eropa dengan unsur budaya Jawa, seperti penggunaan motif bunga serta pewarnaan alam bergaya vorstenlanden (biru, nila, dan merah). Meskipun demikian, hingga kini jejak fisik bangunan atau pabrik Batik Coenraad di Pacitan belum ditemukan.
Dari sisi ragam hias, Batik Pacitan mendapat pengaruh kuat dari gaya Mataraman yang berkiblat pada Solo dan Yogyakarta. Ciri khas utama tampak pada corak geometris maupun nongeometris, serta motif lokal seperti buah pace (mengkudu) dan bebatuan.
Seiring perubahan zaman, tradisi membatik di Pacitan kini mulai berkurang dan hanya dipertahankan oleh sebagian kecil keluarga perajin, salah satunya keluarga Danang secara turun-temurun dari generasi Astrodikun, Semi, Saji, hingga dirinya. Guna mencegah kepunahan warisan budaya ini, para perajin lokal berharap adanya perhatian dan dukungan berkelanjutan dari pemerintah daerah serta pihak terkait dalam melestarikan ekosistem batik khas Pacitan. (*)













