PACITAN | PacitanUpdate.com – Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga Jawa Timur melalui UPT Pengelolaan Jalan dan Jembatan (PJJ) Pacitan melanjutkan proyek pelebaran jalan provinsi ruas Arjosari–Purwantoro menggunakan alokasi Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (P-APBD) 2026 demi menuntaskan seluruh jalur sepanjang 46 kilometer yang ditargetkan rampung pada tahun 2028.
Kepala UPT PJJ Pacitan Dinas PU Bina Marga Jatim, Budi Harisantoso, mengungkapkan bahwa realisasi fisik pelebaran jalur penghubung antarkabupaten tersebut saat ini telah melampaui 30 kilometer.
Tambahan pengerjaan melalui P-APBD 2026 yang sedang berlangsung di lapangan difokuskan untuk menuntaskan sekitar 2,5 kilometer ruas jalan.
“Yang sudah direalisasikan itu sudah di atas 30 kilometer dari 46 kilometer. Sisanya nanti tinggal P-APBD ini mungkin sekitar 2,5 kilometer. Berarti mungkin kalau ini tuntas bisa mencapai 35 kilometer,” ujar Budi, Selasa (3/11/2026).
Mengingat penyelesaian seluruh ruas tidak dapat dilakukan secara sekaligus, UPT PJJ Pacitan berencana kembali mengusulkan alokasi anggaran pada tahun 2027 agar program pelebaran jalan dapat berjalan secara berkesinambungan.
“Selanjutnya nanti di tahun 2027 tetap kita usulkan untuk bisa dikerjakan, disediakan anggaran untuk 2027. Insyaallah pelebaran jalan Arjosari–Purwantoro jalan terus. Kalau target itu kita upayakan mudah-mudahan tahun 2028 sudah selesai, dengan catatan anggaran tersedia,” jelasnya.
Selain mobilitas proyek, faktor cuaca yang mulai memasuki musim penghujan turut menjadi perhatian serius.
Karakteristik geografis jalur Arjosari–Purwantoro dan jalur Pacitan–Ponorogo yang didominasi kawasan pegunungan membuat wilayah tersebut memiliki kerawanan tinggi terhadap bencana tanah longsor serta kondisi jalan yang licin.
Sehubungan dengan berlangsungnya pengerjaan fisik serta potensi cuaca ekstrem, pihak berwenang mengimbau kepada seluruh pengguna jalan untuk meningkatkan kewaspadaan, mematuhi rambu-rambu peringatan, serta menghindari perjalanan pada malam hari jika tidak mendesak.
Pengemudi juga diingatkan untuk memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan prima serta menjaga kesehatan fisik demi keselamatan bersama.
“Mengingat rata-rata kecelakaan sering kali dipicu oleh kondisi fisik pengemudi yang lelah atau mengantuk. Jika merasa mengantuk, pengemudi dianjurkan untuk beristirahat atau tidur terlebih dahulu dan tidak memaksakan diri untuk menyetir dalam kondisi mengantuk demi keselamatan,” pesan Budi.
Ia juga mengingatkan pengguna jalan agar tetap berhati-hati mengingat medan pegunungan yang rawan longsor dan jalan licin. (*)














